AKHLAK PADA LINGKUNGAN




Krisis akhlak yang menimpa bangsa Indonesia saat ini bisa dikatakan sangat kompleks. Dalam hal ini, makna dan cakupan krisis akhlak yang dimaksud tidaklah sempit. Secara garis besar, krisis akhlak di sini meliputi krisis akhlak kepada pencipta (khaliq), krisis akhlak kepada sesama manusia, dan krisis akhlak kepada lingkungaan (hewan dan alam sekitar). Selama ini, makna dan ruang lingkup akhlak hanya terbatas pada akhlak terhadap sesama. Padahal jika dikaji lebih dalam lagi, sesungguhnya makna dan cakupan akhlak itu sangat luas.
Salah satu krisis akhlak yang serius menimpa bangsa Indonesia adalah krisis akhlak kepada lingkungan. Selama ini, definisi akhlak seakan telah terbingkai dan terbatasi pada akhlak kepada sesama manusia. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa akhlak pada lingkungan juga sangat penting untuk diperhatikan dan diaplikasikan. Adapun yang dimaksud dengan akhlak pada lingkungan disini adalah berbuat baik pada tumbuhan, hewan, hutan, dan lain sebagainya.
Melihat realita yang ada saat ini betapa banyak bencana alam dan permasalahan lingkungan yang terjadi, baik itu skala internasional atau regional Indonesia, seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, pencemaran, polusi dan lain-lain. Memang tidak semua bencana alam yang terjadi murni karena ulah manusia, akan tetapi tidak lantas menafikan manusia sebagai faktor penyebab dalam permasalahan ini.  
Banyak yang tidak menyadari bahwa banyak bencana alam dan berbagai permasalahan lingkungan yang selalu menimpa negeri ini tidak lain disebabkan oleh  tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Sekitar empat belas abad yang lalu, Allah telah menjelaskan tentang hal ini di dalam kitab suci al-Qur’an, yaitu “Telah tampak kerusakan di muka bumi disebabkan ulah tangan manusia itu sendiri” (QS. ar-Rum ayat 41). Dari ayat ini, dapat dilihat secara jelas bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi ini disebabkan oleh manusia yang ada di dalamnya.
Belum lama ini, bangsa kita kembali ditimpa musibah tanah longsor besar yang menimpa warga di Kabupaten Banjarnegara. Berbagai media yang meliput betapa dahsyatnya musibah ini dan akibat yang ditimbulkannya. Berita-berita mengekspos banyaknya nyawa yang melayang, puluhan tempat tinggal hilang, dan berbagai kerugian material lainnya. Akan tetapi sungguh sangat ironis, masih banyak  yang belum sadar serta dapat mengambil ibrah dari segala peristiwa yang terjadi.
Kalau kita kembali mengkaji sejarah, kejadian-kejadian bencana alam bukan hanya satu kali ini saja, namun sudah bertahun-tahun yang lalu longsor sudah pernah terjadi, tapi hanya sedikit manusia yang mengambil peajaran dari segala peristiwa ini.
Secara idealnya, setiap orang hendaknya merenungi terhadap kejadian apa saja yang datang menerpa negeri ini. Seharusnya mereka dapat memikirkan mengapa semua ini terjadi. Secara logika diketahui juga bahwa segala sesuatu tidak mungkin terjadi tanpa adanya sebab atau secara tiba-tiba. Tapi semuanya memiliki sebab-sebab yang perlu diperbaiki.
Sebagai contoh, longsor, banjir, kebakaran hutan ini terjadi diakibatkan eksploitasi hutan secara berlebihan. Padahal manusia itu sendiri tidak mungkin tidak tahu jika hutan itu sendiri memiliki fungsi yang sanagt banyak, diantaranya adalah sebagai faktor yang penting untuk menopang kehidupan di bumi, memberikan kestabilan tanah, menyerap dan menyimpan air, sebagai pusat kehidupan jenis flora dan fauna dan masih banyak lagi fungsi hutan dalam kehidupan makhluk-makhluk Allah. Kita sadari, bahwa makhluk Allah bukan hanya manusia, akan tetap semua jenis tumbuhan dan hewan juga merupakan makhluk Allah yang perlu dilestarikan.
Di kehidupan modern ini sangat sulit bagi kita untuk menemui hutan, terutama di kota-kota besar. Hal ini dikarenakan masyarakat yang tinggal di kota dituntut untuk memiliki tempat tinggal, sebagai pelebaran jalan, serta membangun gedung-gedung yang tinggi sehingga hutan-hutan yang ada di kota-kota besar di ekploitasi secara berlebihan. Jadi, tidak diherankan jika negeri kita ini rawan longsor dan banjir. Kedua hal diatas merupakan permasalahn negri ini yang tidak pernah habis-habisnya untuk diselesaikan.
Selain untuk berbadah kepada Allah, manusia juga diciptakan untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Arti dari khalifah itu sendiri adalah sebagai pemimpin, berbuat baik. Jadi, kita sebagai manusia hendaknya untuk berbuat baik dan menjadi pemimpin bagi makhluk-makhluk yang ada di permukaan bumi ini.
Dengan demikian, menjadi suatu kesadaran diri dari masing-masing orang agar dapat memaksimalkan dan mengaplikasikan akhak terpuji kepada lingkungan.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment