Pencari Cahaya





Lala.. Lala..
Nama itu yang  sering dipanggil padanya, anaknya tinggi, putih, berparas cantik dan memiliki watak penyabar serta lembut, ia memiliki dua orang sahabat namanya Reni dan Wati. Mereka bertiga selalu bersama bagaikan anak kembar tapi sebenarnya tidak ada di dunia ini orang yang kembar semuanya walaupun lahir dari satu rahim seorang ibu.
Mereka bertiga memiliki umur yang sama, namun hanya bulan yang berbeda. Mela nama sebenarnya, namun orang-orang sering memanggilnya Lala (mungkin agar seperti Lala yang ada di kartun Teletubies kali ya), ia merupakan anak yang paling pendiam sekaligus paling muda diantara mereka, tak seperti Wati yang selalu ramai sehingga akan terasa hampa ketika ia tidak ada. Ciri khas Wati adalah selalu memberikan senyuman termanisnya pada orang terdekat bila ia menginginkan sesuatu, dengan mata yang sedikit sipit, dan hidung mancung, serta wajah yang putih membuat ia sering dibilang Bule kesasar, tapi ejekan tersebut dibalas dengan senyuman.  Ia tertua kedua dari kedua sahabatnya dan hobby membaca buku, jadi jangan heran ketika masuk ke kamarnya melihat lemari yang begitu rapi dengan buku-buku yang bervariasi, ia suka sekali dengan buku yang berkaitan dengan motivasi-motivasi, baik itu yang islami maupun motivasi umum. Sedangkan Reni, ia lumayan gemuk tapi tinggi, karena ketinggian badan yang ia miliki jadi terkadang kalau dilihat sekilas tidak tampak gemuk. 
muslim yang satu dengan yang lainnya itu bagaikan bangunan yang saling menguatkan” ini merupakan simbol atau prinsip ketiganya, jika Lala merasa jenuh, bingung, atau lain sebagainya, maka si Wati akan mengeluarkan jurus motivasinya. Sedangkan Reni mengeluarkan jurus teka-teki, puisi, atau nggak pantun yang dibuatnya secara asal-asalan. Ketiganya masing-masing memiliki karakter yang berbeda-beda dan saling mengisi antar kekosongan yang ada pada diri sahabatnya.
            Di teriknya matahari yang panas mampu menusuk pori-pori kulit, membuat ketiga sahabat ini merasa gerah,  dan tidak nyaman dalam berfikir, untuk mewujudkan suasana yang hidup. Tiba-tiba si Wati memberikan motivasi pada dirinya serta kedua sahabatnya untuk tetap semangat walaupun badai menerjang. Dengan gaya dan bahasa khas, ia mulai memberikan jurus ampuhnya dengan kata-kata. “Wahai saudariku.. ketahuilah Allah lebih menyukai orang-orang yang kuat daripada orang-orang yang lemah, kekuatan tersebut akan hadir ketika kita semangat untuk menuntut ilmu, dan ilmu itu didapat ketika kita mau berusaha, bersemangat serta konsisten untuk terus menggali ilmu, ingatlah ketika para sahabat Rasululullah terdahulu, mereka tidak pernah lelah untuk menimba ilmu, kita bertiga merupakan penerus-penerus para sahabat, tabi’in serta tabiut’tabiin ter..”, belum selesai Wati berbicara,  tiba-tiba ia kaget melihat seorang wanita datang dengan memakai celana jeans dengan gaya tomboy lalu bertanya:
“euyy,, ngapain loe belajar..?? tidak ada gunanya, mending loe facebookan aja” kata wanita itu, Lala langsung memberikan salam padanya dan berkata “silahkan duduk kawan” lalu melemparkan senyuman termanisnya, Reni sempat kaget atas sikap Lala pada orang tersebut, dalam hati Ia berkata “Lala so’atau banget sih pake ngucapin salam segala, emangnya ia tau apa kalau orang yang didepan ini Islam atau tidak?” tapi Reni hanya diam dan tak berani mengeluarkan suara.
“Okke thanks” jawab orang tersebut dengan nada sinis, ia langsung mengambil posisi untuk duduk di dekat Wati, sebenarnya Wati sedikit agak gugup karena melihat wajah orang yang berada disampingnya itu sangat galak dan seram. Wati merasa kaku dan tak berani melanjutkan kata-kata motivasi tadi, dalam hati Wati berkata :”Ya Allah lindungilah aku dari tangan orang-orang yang dzalim”.
Untuk memecahkan kesunyian, Lala bersikap cool menghadapi wanita berhati preman yang duduk di depannya lantas bertanya “ada apa gerangan engkau datang kemari wahai saudariku”,,? Mendengar pertanyaan itu, dengan nada yang tinggi perempuan itu  bertanya “what you say?? Saudari..?? sejak kapan kamu jadi saudaraku, sejak kapan ayahku menikah dengan ibumu..?? kapan..?? kapan..??” sorry yah,, gue paling nggak suka kalau ada orang yang so’kenal dan so’dekat dengan gua” Mendengar jawaban perempuan itu membuat Reni dan Wati semakin takut dan gemetar, ingin rasanya keduanya lari, namun mereka tak berani beranjak dari tempat duduk.
Lala juga tak mau kalah, lalu balik berkata ”sesama muslim dan muslimah itu adalah saudara, jadi tidak ada salahnya jika saya memanggilmu saudari” “halaah,, loe jangan so’tau, siapa yang muslimah? Aku bukan muslim dan juga  muslimah”. Dengan sigap Lala bertanya “Lalu mengapa di tas mu terdapat gantungan kunci dengan kata-kata I love Allah, itukah yang dinamakan bukan muslim/ah..?”, “ hahahaha.. ini hanya tas titipan temanku yang juga seorang muslimah seperti kalian, aku sengaja mengambilnya karena mau ku injak-injak nama ini.  “Apaaa...??? mau kamu injak..??” kata Wati dengan nada kaget, lalu tiba-tiba ia diam ketika wanita disampingnya melotot padanya, seakan-akan ia melihat singa yang lagi kelaparan ingin memakan mangsanya. Perempuan itu bertanya “hei..kenapa? loe nggak terima..?? asal loe tau yaa.. gue sengaja datang kesini karena bosan dengan perkataan teman-teman kampus yang selalu ngomongin serta membanggakan atas keshalehan kalian didalam beragama dan menjunjung Tuhan, sekarang gue mau bertanya pada kalian bertiga, dimana Allah yang selalu kalian namakan Tuhan, dimana dia..? panggil..!! aku ingin berbicara padanya. Lagi-lagi Lala hanya bersikap dingin seraya berkata  ”okke fine..!! jika kamu ingin mengetahui keberadaan Allah, maka perkenalkan dirimu pada kami bertiga terlebih dahulu agar kami bisa membantu mu dan mari kita selesaikan keraguanmu padanya”. Akhirnya perempuan itu memperkenalkan dirinya, panggil aja Jahidah. “Woow Subahanallah  nama yang indah tiba-tiba Reni bersuara, ia pun menjelaskan arti dari kata Jahidah tersebut. “Jahidah, nama mu itu memiliki arti yang sangat indah lho..!! aku yakin kedua orang tua mu pasti memiliki maksud tertentu dengan nama itu”. “Alaahhh,, jangan so’tau loe, gue nggak butuh penjelasan loe, tapi yang gue butuhkan saat ini adalah dimana Allah yang sering kamu sebut-sebut sebagai Tuhan itu..??”. Lala mengedipkan mata untuk memberikan kode pada kedua sahabatnya agar diam jika tidak ditanya .
Lala sangat faham ketika mengatasi manusia-manusia yang berhati preman, karena ia sering bertemu dengan orang-orang seperti Jahidah ketika semasa SMA dahulu, sehingga membuatnya tak gentar ketika berhadapan langsung. (maklum ternyata si Lala juga mantan preman berhati malaikat J )
“Yaudah.. kalau gitu, sekarang aku pengen nanya sama kamu,  apa sebabnya dirimu bertanya  keberadaan Allah,,? segala sesuatu pertanyaan itu muncul pasti memiliki sebab, entah itu dialami sendiri atau melihat realita yang ada..?” tanya Lala, Jahidah berkata dengan sedikit berbohong “gue tidak memiliki sebab, gue hanya ingin tau, kenapa kalian begitu percaya dan mengagungkan nama tersebut,  apa sih keindahannya..? atau jangan-jangan kalian juga tidak mengetahui keberadaannya sekarang”. Mendengar penjelasan itu Lala terdiam dan berfikir sejenak, bagaimana cara mengakali orang yang di hadapannya ini, akhirnya ia mendapatkan ide dan berkata:” lihatlah di sekeliling mu, ada apa aja..? spontan Jahidah berkata :” di sekeliling ku terdapat pohon, air pancur, dan lain sebagainya”. Lala kembali memberikan pertanyaan “siapa yang membuat tempat air pancur itu..?  Jahidah menjawab :” manusia”, lalu lihat diatas mu ada apa..? lanjut Lala, diatas ku ada langit berwarna biru, jawab Jahidah dengan cepat.
“Naah kalau begitu, sekarang aku tanya sama kamu, siapa yang menciptakan langit tersebut..? Jahidah sangat terperanjat mendengar pertanyaan itu, ia sama sekali tak menyangka akan disodorkan pertanyaan yang aneh-aneh sehingga membuat ia  terdiam. Diraut wajahnya terlihat sedikit kebingungan, lalu Lala menjelaskan “Seluruh makhluk yang berada di jagad raya ini pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin mereka menciptakan diri mereka sendiri, karena sesuatu yang awalnya tidak ada, tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Demikian pula, mereka tidak mungkin tercipta secara tiba-tiba (ada dengan sendirinya) karena sesuatu yang baru tercipta, pasti ada penciptanya. Bagaimana mungkin alam yang sedemikian teratur rapi dengan segala rangkaian yang sangat sesuai dan keterkaitan yang sangat erat antara sebab dengan akibat serta antara sebagian wujud dengan yang lainnya, dinyatakan tercipta secara tiba-tiba.

Sesuatu yang muncul secara tiba-tiba yang pada asalnya tercipta tanpa suatu keteraturan tidak mungkin dalam eksistensi dan perkembangannya akan terjadi keteraturan yang sedemikian rapi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (yakni secara tiba-tiba) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau mereka pula yang berkuasa?” (At-Thur: 35-37).
Karena gengsi, Jahidah tak mau kalah, ia langsung berkata :” hey.. loe punya telinga nggak sih..? yang gue tanya bukan kejadian Alam ini..? tapi tempat Tuhan yang kalian sebut sebagai Allah ..?”, dengan senyum dan santai Lala pun menjawab “santai kawan,, penjelasan ku belum selesai. baiklah.. kalau kamu mau tau keberadaan Allah, maka jawab pertanyaanku dengan jujur. “dirimu menganut agama apa..?, wadukh..ini nih yang buat gue tambah bingung ketika orang bertanya masalah agama “gerutu Jahidah dalam hati,, “loe kok diam sih..? tanya Lala. Oh..ngg..ng..nggak.. siapa yang diam..?” kata Jahidah, kalau kamu nggak diam, jawab dong pertanyaanku”  kata Lala. “Emh.mm..mm.. gue mengikuti agama kedua orang tuaku, yaitu agama Islam”, “di rumah kamu punya al-Qur’an nggak..?? apa..?, al-Qur’an..?? apaan tuh? Tanya Jahidah penuh keheranan. Lalu Wati mengambil al-Qur’an didalam tasnya dan berkata “ini lho yang namanya al-Qur’an”, “hahaha oalaahh...itu toh yang namanya al-Qur’an,,? kalau itu mah, gua nggak punya, ngapain juga beli buku begituan, mending gue beli makanan daripada beli buku yang nggak jelas gitu”
“Yaudah kalau kamu emang nggak mau beli, nih ambil aja punyaku, tak perlu ngeluarin duit kaan??” kata Wati. Dengan wajah yang heran, Jahidah bertanya “untuk aku..?”, “iyah..untuk kamu baca-baca dirumah, mungkin kamu  lagi kesepian, kalau kamu nggak ngerti arabnya, baca artinya aja”. Jelas Wati
“”emhh,, iya deh, sorry.. gue mau  cabut dulu,,  kata Jahidah, “oke, salam kenal dari kami bertiga, kalau kamu mau tanya-tanya atau share tentang kebingunganmu, tanya aja sama kita-kita, kalau kami bisa bantu pasti dibantu, tapi kalaupun nggak, kami akan bertanya pada yang lebih ahlinya. Oia..ini tempat favorit kita untuk belajar dan ngumpul-ngumpul lho..! kalau kamu mau ikut gabung, kesini aja besok sekitar jam-jam sepuluh, kata Reni
            Di perjalanan Jahidah berpikir panjang tentang penjelasan Lala tadi, ia sangat tidak konsen ketika mengendarai motornya, sesampainya di kos, ia mencoba membuka buku yang diberikan Wati padanya. Ia sangat bingung dengan tulisan-tulisan Arab, terakhir ia melihat tulisan ini ketika mau kenaikan kelas tiga SMP. Tapi al-Qur’an tersebut tetap dibuka-bukanya dan membaca terjemahnya, mulai dari juz 30 sampai pada juz 28 lalu ia terhenti pada surah ar-Rahman. Dari awal sampai akhir ia membaca terjemahnya, sampai ia tertidur dan tak terasa meneteskan air mata.
            “Laa,, ternyata kamu hebat juga yah menghadapi orang seperti Jahidah tadi, jujur deh,, kalau kamu nggak ada tadi, entah..apa yang harus kita jawab, soalnya aku baru kali ini mendengar pertanyaan orang seperti dia” kata Wati. “Halaahh..gombal, pertanyaan seperti itu mah sudah tidak asing  lagi bagi telingaku, karena semasa SMA banyak orang-orang yang beragama Nasrani dan bertanya-tanya tentang keberadaan Tuhan, nah..dengan adanya pertanyaan tersebut membuatku semangat untuk mencari jawabannya”. Mendengar obrolan kedua sahabatnya, Reni tak mau kalah, ia pun ikut menggoda sahabatnya, “kalau gitu besok-besok kalau ada debat antara Kristen-Islam, kamu ajukan diri aja Laa..”katanya, “wadukh,, kalian ini makin ngaco deh,, udah ah.. ayoo kita pulang sebentar lagi shalat Ashar tuh jawab Lala
            See you next tomorrow  kawan,, Assalamua’alaikum” kata Lala mengakhiri perjumpaan mereka hari itu, sementara Reni dan Wati masih tetap berjalan bersama. Di tengah jalan keduanya hanya terdiam, karena keduanya mengingat pesan salah satu dosen filsafat mereka mengatakan, kalau jalan nggak boleh banyak berbicara. Tak terasa Wati telah sampai di depan kostnya, ia pun pamitan serta mengucapkan salam pada Reni.
            Keesokan harinya, seperti biasa ketika berangkat kuliah Wati dan Reni selalu bersama, semenjak SMA keduanya sudah bersahabat sementara Lala sahabat mereka ketika awal masuk kuliah yaitu pada saat pedaftaran. “Tungguin aku ya  Ren”, kata Wati. “Emangnya kamu mau ngapain sih..?? “hehe biasa beli tisu sob, lagi kehabisan nih” sambil senyum-senyum, “yaudah cepeten sana, jangan lama yaa..!! kalau kamu lama ta’tinggalin”. Tiba-tiba ada yang merangkul Reni dari belakang dan mengucapkan “assalamu’alaikum, wa’alaikumussalam “eitss,, tumben dirimu duluan, biasanya kita yang selalu menunggu”, kata Reni, “hehe..sekali-kali aku yang nunggu kalian dong, pengen melakukan sesuatu yang berbeda gitu lho..” akhirnya kedua sahabat tersebut tertawa. “Hey,, by the way, si Wati kemana..?” tanya Lala, “tuh sana lagi beli tisu katanya, tapi kok lama banget tuh. Yaudah kita hampiri aja yuukk..!!! kebetulan ana mau beli permen nih, kata Lala.. boleh aja, asalkan ana dibeliin juga ya..!! hehehe”   “okke.. gampang.. lets goo” kata Lala
            “Sob, sekarang jam berapa..? entar kita telat lagi, walaupun dosennya belum datang yang penting kita harus bisa hidup disiplin” ujar Reni mengingatkan keduanya. Sesampainya  di kampus, lalu salah seorang teman meraka berkata  “dosennya lagi sakit, jadi beliau tidak bisa masuk. Tapi beliau nitip handout ini untuk dicopy dan besok bapak jelaskan. “yaaah,, cape-cape jalan ternyata dosennya nggak masuk lagi..hufthhh” sahut Wati. “Hushh,, diam,,!!” nggak boleh kaya gitu, semua ini pasti ada hikmahnya.  “Kalau gitu, gimana kalau kita bertiga ketempat favorit yuukk.. “ ajak Reni
            Setibanya ditempat itu, mereka melihat sosok wanita berhati preman yang kemarin menghampirinya, namun kali ini dia berbeda dari kemarin, Hari ini ia mecoba tersenyum pada ketiga orang tersebut. Ketika hendak duduk, Jahidah lalu berkata “Lala, maafin gue atas sikap kasar yang kemarin yaah”, ia tak menyebut nama Reni dan Wati karena ia belum kenalan, “ouh..santai kawan.. itu biasa saja, kamu tak perlu khawatir, oh..iyah, kenalin  ini sahabatku, namanya Reni dan yang ini Wati, jika dirimu butuh motivasi apapun itu, maka kursuslah pada dia (sambil menunjuk Wati), dan kalau kamu ingin jadi sastrawan maka kursuslah pada dia, (sambil menunjuk Reni). Weeh???,, motivasi apaan,,?? ana aja belum begitu bisa kali, anti ada-ada saja, keluar Arab nya si Wati, “ya..ille.. ana juga kali, nggak begitu pandai dalam sastra, hanya Lala aja tuh yang ngaco”, “udah..anti berdua nggak usah ngeles gitu dech, ngaku aja napa..? toh..nggak rugi juga..” Melihat ketiganya bertengkar, Jahidah langsung ikut memberikan saran, “daripada kalian bertiga bertengkar mending kita minum yuuk, nih..tadi gue beli minum dulu terus ke sini deh..”, “woow..ini nih yang ana tunggu dari tadi, kebetulan lagi haus”, kata Reni, “dasar anti nggak pernah berubah, dari SMA kalau lihat minuman, matanya berbinar-binar kaya melihat permata aja”, kata Wati. “Alaahhh,, kita tuh butuh minum juga kawan..” Reni mencoba mengelak, “wadukh..udah deh..udah deh.. jangan kaya ank kecil gini, lihat tuh Jahidah hanya keherenan melihat tingkah kalian berdua,,” kata Lala mencoba melerai. “what..?? kita..?? loe ajja kali gue nggak..!! kata Reni dan Wati secara bersamaan. Jahidah hanya tersenyum melihat ketiganya.
            “Oh..iyah, aku penasaran dengan kata-kata mu kemarin, loe memberikan gue buku ini (sambil memegang al-Qur’an), dan menyuruhku membacanya. Aku sudah membacanya namun hatiku terus bertanya-tanya, didalam surah Ar-Rahman tersebut banyak dijelaskan tentang Allah,, aku bingung apa yang harus aku lakukan..?” kata Jahidah sambil memainkan kakinya ditanah. “Emangnya apa yang masih kamu bingungkan..??” kata Reni, “gue bingung Ren.. selama ini aku nggak pernah menyentuh al-Qur’an, terakhir kali aku membacanya pada saat penaikan kelas tiga SMP”, lha,,?? terus selama ini kamu ngapain..?? kenapa nggak dilanjutin belajarnya,,?” kata Wati menimpali. “ aku merasa Allah tidak adil, ia mengambil seluruh orang-orang yang aku sayangi, lalu Jahidah terdiam sejenak menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya, ia lalu melanjutkan ceritan nya. “ketika itu, aku baru saja pulang dari sekolah, samar-samar aku mendengar teriakan orang minta tolong, aku cuek aja dengan suara itu, tapi aku heran, kenapa semakin dekat aku dengan rumahku, semakin jelas suara itu, maka ku percepat langkahku. Ketika aku sampai di rumah, aku sangat kaget melihat ayahku disiksa dan ibuku diperkosa oleh ketiga laki-laki yang sangar dan memiliki rambut panjang, aku syok melihatnya. Walaupun aku merasa badanku berat tuk diangkat, tapi kuberanikan diri untuk megambil kayu api yang tidak jauh dariku, langsung kupukulkan kayu tersebut pada kaki salah seorang pria yang tinggi besar, sepertinya ia adalah bos diantara ketiganya, “Argghhh.. teriak laki-laki itu”, ketika laki-laki itu mengerang kesakitan, kedua laki-laki yang lain menghampirinya. Melihat hal itu, langsung kupercepat langkah menuju ayahku,  ku pangku ayahku, ia sempat menyuruhku pergi, tapi aku nggak mau, hingga tak terasa darah semakin deras keluar dari  kepalanya sehingga  akhirnya ia meninggal  dipangkuan ku,, aku semakin marah besar, lalu ku angkat kepala ayahku perlahan-lahan kuletakkan dilantai dan ku ambil lagi kayu yang lain kemudian kulemparkan kayu itu pada kedua laki-laki yang sedang mengobati temannya. Mereka berdua kaget dan menoleh padaku dengan wajah tak kalah seramnya, tapi aku mencoba tegar, ketika keduanya ingin menghajarku, tiba-tiba polisi datang, tapi mereka tidak berhasil menangkap keduanya. “Too..oo..long..too..oo..long.. samar-samar ku mendengar suara ibuku yang merintih kesakitan”, “astaga..!!” lalu ku dekati ibuku dan memeluknya, serta berkata “ibu, maafin aku, aku telat datang ayoo kita kerumah sakit..!!”, dengan terbata-bata ibuku menjawab :”tii..ii..tidak mengapa nak, yang penting kau selamat, tidak perlu ibu dibawa kerumah sakit, karena ibu merasa masa hidup ibu sudah tak bertahan lama lagi”,  tak terasa air mataku jatuh membasahi kedua pipiku, belum lama ibuku berkata, tiba-tiba nadinya tak berdenyut lagi, Oh.. my God,,!!! dimanakah engkau, kenapa engkau tak menyelamatakan kedua orang tuaku...??  tuhan tidak adil teriak ku..
Itulah kisah pahitku sehingga sampai saat ini aku merasa Allah tidak adil dan ku nggak mau beribadah padanya, tapi setelah ku baca surah ar-Rahman itu, membuat hatiku bergetar, dan  sadar serta sangat menyesal atas perbuatanku selama ini.  Sekarang aku nggak tahu lagi mau berbuat apa,,? aku merasa aku sangat jauh dari Tuhan, aku sudah terlambat,, sangaat terlambat, usiaku sudah tua. Bagaimana mungkin aku bisa kembali padanya, aku sudah banyak berbuat dosa dan mendzalimi orang lain. Jelas Jahidah panjang lebar, sesekali ia mengusap air mata yang terus mengalir.
Ketiga orang tadi sangat terharu mendengar cerita Jahidah, lalu perlahan Lala merangkul Jahidah dan berkata “saudariku yang aku cintai karena Allah, ketahuilah didalam bertaubat tidak ada kata terlambat, kecuali nafas telah sampai di krongkongan. Kamu harus bersyukur pada Allah, yang telah menyadarkan dirimu dari kelalaian serta perbuatan-perbuatan tercela yang telah kau lakukan, bertaubatlah dengan taubat yang sebenar-benarnya kepada Allah swt. Allah memiliki ampunan yang sangat luas, kembalilah kepadanya dan berjanji nggak akan mengulanginya lagi. Didalam hadits dijelaskan bahwa suatu ketika ada seorang pembunuh, ia sudah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa. Ketika itu ia ingin bertaubat, akhirnya ia berjalan mencari seorang Tabib. Ketika ia ketemu dengan seorang Tabib tersebut, ia bertanya :”Bib, aku ini sudah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa, apakah masih ada ampunan bagiku..? tanya orang tersebut. Lalu sang Tabib menjawab:”tidaak..!! kau sudah banyak dosa, jadi tidak ada lagi ampunan untukmu..!! Mendengar jawaban tabib ini, maka si pembunuh merasa putus asa dan jengkel, sehingga ia menggenapkan seratus nyawa. Setelah membunuh, ia berjalan menuju seorang Kyai, ketika sampai ditempat Kyai, ia bertanya:”pak Kyai,, aku telah membunuh  seratus nyawa, apakah masih ada ampunan untukku..?? maka Kyai itu menjawab “wahai pemuda... Allah maha pengampun, dan pintu ampunan masih terbuka untukmu, maka segeralah engkau bertaubat padanya, dan hijrahlah ke kota seberang dan iringi perbuatan jelekmu  dengan perbuatan baik. Setelah itu, pemuda tadi menuju kota seberang seperti apa yang dikatakan pak Kyai, tapi sebelum sampai dikota seberang, malakait maut datang menjempuntya. Didalam kisah tersebut pemuda tadi masuk syurga.  Inilah bukti bahwa Allah maha pengampun dan penyayang.
Jahidah.. kematian kedua orang tua mu itu, semuanya telah tertulis di Lauh Mahfudz, semuanya itu pasti ada hikmah dibalik kejadian pahit yang engkau alami. Allah sangat dekat pada kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita, mungkin engkau mengatakan Allah tidak adil..?? Allah Maha mendengar dan Maha melihat atas perbuatan hambanya, ia selalu mengawasi, ia tidak tidur. Iringilah perbuatan jelak mu itu dengan perbuatan baik pada sesama makhluk Allah. Kita harus berfikir positif atau ber khusnudzan aja padanya, mungkin saat itu Allah ingin menguji keimanan mu. Karena banyak orang yang mengaku beriman, tapi ketika Allah menguji keimanan mereka, lantas mereka berputus asa.
“Thanks kawan.. bantu aku untuk menuju cahaya Ilahi yang sempat hilang, ku ingin mencari cahaya itu lagi, ku ingin mendapatkannya”. Kata Jahidah sambil menatap satu persatu  ketiga orang yang baru dikenalnya itu, lalu keempat orang tersebut berangkulan. Muncul lagi kata-kata gaulnya “sudah lama gue ingin mencari orang yang bisa membantu untuk kembali pada cahayanya, tapi gue bingung harus seperti apa,,?  dulu aku pernah kuliah di fakultas Hukum, Universitas Borneo tapi aku dikeluarkan,   karena menghajar mahasiswi lain dan dijebloskan kepenjara. Sebelum aku keluar, aku selalu mendengar nama kalian bertiga disebut-sebut para mahasiswa/i fakultas Hukum, mereka selalu bercerita tentang kepatuhan kalian. aku ngerasa hati kecilku terus berontak atas tindakanku, aku sama sekali nggak ngerasa takut pada siapa pun, apalagi pada Tuhan. Mendengar kata Allah aja, aku langsung  jengkel dan benci, sehingga dulu aku pernah menyimpan kotoran-kotoran di masjid-masjid dan mengempeskan sepeda motor orang-orang yang mau pergi ke mesjid.
“Sudahlah kawan.. masa lalu jangan diingat-ingat lagi, sekarang yang harus kamu lakukan  adalah membuka lembaran baru dan jangan pernah menoleh ke masa lalu. Karena hanya orang gila aja yang mengingat masa lalu terus bersedih, setiap orang pasti memiliki masa lalu yang suram dan buruk, bukan hanya kamu doang. Simpanlah, tutuplah rapat-rapat tentang aib mu yang dahulu, biarlah kau dan Allah yang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang terpilih aja yang mengingat masa lalu dan menjadikan pelajaran bagi dirinya”. Jelas Wati
“Waahh.. personel kita jadi bertambah nih, tempat ini merupakan tempat-tempat yang nggak akan pernah kulupakan, karena begitu banyak kisah-kisah yang menarik dan lucu yang kudapati di sini, apalgi pertama kali melihat wajahnya Jahidah” kata Reni. Hahahaha suara tawa mereka berempat. “Tempat ini kunamakan “Cahaya Ku” kata Jahidah, “why..?” tanya Lala, karena di tempat inilah kutemukan cahayaku.
The end

Previous
Next Post »
Thanks for your comment