Nama
itu yang sering dipanggil padanya,
anaknya tinggi, putih, berparas cantik dan memiliki watak penyabar serta
lembut, ia memiliki dua orang sahabat namanya Reni dan Wati. Mereka bertiga
selalu bersama bagaikan anak kembar tapi sebenarnya tidak ada di dunia ini
orang yang kembar semuanya walaupun lahir dari satu rahim seorang ibu.
Mereka
bertiga memiliki umur yang sama, namun hanya bulan yang berbeda. Mela nama
sebenarnya, namun orang-orang sering memanggilnya Lala (mungkin agar seperti
Lala yang ada di kartun Teletubies kali ya), ia merupakan anak yang paling pendiam
sekaligus paling muda diantara mereka, tak seperti Wati yang selalu ramai sehingga
akan terasa hampa ketika ia tidak ada. Ciri khas Wati adalah selalu memberikan
senyuman termanisnya pada orang terdekat bila ia menginginkan sesuatu, dengan
mata yang sedikit sipit, dan hidung mancung, serta wajah yang putih membuat ia
sering dibilang Bule kesasar, tapi ejekan tersebut dibalas dengan senyuman. Ia tertua kedua dari kedua sahabatnya dan
hobby membaca buku, jadi jangan heran ketika masuk ke kamarnya melihat lemari
yang begitu rapi dengan buku-buku yang bervariasi, ia suka sekali dengan buku
yang berkaitan dengan motivasi-motivasi, baik itu yang islami maupun motivasi
umum. Sedangkan Reni, ia lumayan gemuk tapi tinggi, karena ketinggian badan
yang ia miliki jadi terkadang kalau dilihat sekilas tidak tampak gemuk.
“muslim yang
satu dengan yang lainnya itu bagaikan bangunan yang saling menguatkan” ini
merupakan simbol atau prinsip ketiganya, jika Lala merasa jenuh, bingung, atau
lain sebagainya, maka si Wati akan mengeluarkan jurus motivasinya. Sedangkan
Reni mengeluarkan jurus teka-teki, puisi, atau nggak pantun yang dibuatnya
secara asal-asalan. Ketiganya masing-masing memiliki karakter yang berbeda-beda
dan saling mengisi antar kekosongan yang ada pada diri sahabatnya.
Di teriknya matahari yang panas mampu
menusuk pori-pori kulit, membuat ketiga sahabat ini merasa gerah, dan tidak nyaman dalam berfikir, untuk
mewujudkan suasana yang hidup. Tiba-tiba si Wati memberikan motivasi pada dirinya
serta kedua sahabatnya untuk tetap semangat walaupun badai menerjang. Dengan
gaya dan bahasa khas, ia mulai memberikan jurus ampuhnya dengan kata-kata.
“Wahai saudariku.. ketahuilah Allah lebih menyukai orang-orang yang kuat
daripada orang-orang yang lemah, kekuatan tersebut akan hadir ketika kita
semangat untuk menuntut ilmu, dan ilmu itu didapat ketika kita mau berusaha,
bersemangat serta konsisten untuk terus menggali ilmu, ingatlah ketika para
sahabat Rasululullah terdahulu, mereka tidak pernah lelah untuk menimba ilmu,
kita bertiga merupakan penerus-penerus para sahabat, tabi’in serta
tabiut’tabiin ter..”, belum selesai Wati berbicara, tiba-tiba ia kaget melihat seorang wanita datang
dengan memakai celana jeans dengan gaya tomboy lalu bertanya:
“euyy,, ngapain
loe belajar..?? tidak ada gunanya, mending loe facebookan aja” kata wanita itu,
Lala langsung memberikan salam padanya dan berkata “silahkan duduk kawan” lalu
melemparkan senyuman termanisnya, Reni sempat kaget atas sikap Lala pada orang
tersebut, dalam hati Ia berkata “Lala so’atau banget sih pake ngucapin salam
segala, emangnya ia tau apa kalau orang yang didepan ini Islam atau tidak?”
tapi Reni hanya diam dan tak berani mengeluarkan suara.
“Okke thanks”
jawab orang tersebut dengan nada sinis, ia langsung mengambil posisi untuk
duduk di dekat Wati, sebenarnya Wati sedikit agak gugup karena melihat wajah
orang yang berada disampingnya itu sangat galak dan seram. Wati merasa kaku dan
tak berani melanjutkan kata-kata motivasi tadi, dalam hati Wati berkata :”Ya Allah
lindungilah aku dari tangan orang-orang yang dzalim”.
Untuk
memecahkan kesunyian, Lala bersikap cool menghadapi wanita berhati
preman yang duduk di depannya lantas bertanya “ada apa gerangan engkau datang
kemari wahai saudariku”,,? Mendengar pertanyaan itu, dengan nada yang tinggi
perempuan itu bertanya “what you say??
Saudari..?? sejak kapan kamu jadi saudaraku, sejak kapan ayahku menikah dengan
ibumu..?? kapan..?? kapan..??” sorry yah,, gue paling nggak suka kalau ada
orang yang so’kenal dan so’dekat dengan gua” Mendengar jawaban perempuan itu
membuat Reni dan Wati semakin takut dan gemetar, ingin rasanya keduanya lari,
namun mereka tak berani beranjak dari tempat duduk.
Lala
juga tak mau kalah, lalu balik berkata ”sesama muslim dan muslimah itu adalah
saudara, jadi tidak ada salahnya jika saya memanggilmu saudari” “halaah,, loe
jangan so’tau, siapa yang muslimah? Aku bukan muslim dan juga muslimah”. Dengan sigap Lala bertanya “Lalu
mengapa di tas mu terdapat gantungan kunci dengan kata-kata I love Allah,
itukah yang dinamakan bukan muslim/ah..?”, “ hahahaha.. ini hanya tas titipan
temanku yang juga seorang muslimah seperti kalian, aku sengaja mengambilnya
karena mau ku injak-injak nama ini.
“Apaaa...??? mau kamu injak..??” kata Wati dengan nada kaget, lalu
tiba-tiba ia diam ketika wanita disampingnya melotot padanya, seakan-akan ia
melihat singa yang lagi kelaparan ingin memakan mangsanya. Perempuan itu bertanya
“hei..kenapa? loe nggak terima..?? asal loe tau yaa.. gue sengaja datang kesini
karena bosan dengan perkataan teman-teman kampus yang selalu ngomongin serta
membanggakan atas keshalehan kalian didalam beragama dan menjunjung Tuhan, sekarang
gue mau bertanya pada kalian bertiga, dimana Allah yang selalu kalian namakan
Tuhan, dimana dia..? panggil..!! aku ingin berbicara padanya. Lagi-lagi Lala
hanya bersikap dingin seraya berkata ”okke
fine..!! jika kamu ingin mengetahui keberadaan Allah, maka perkenalkan dirimu
pada kami bertiga terlebih dahulu agar kami bisa membantu mu dan mari kita
selesaikan keraguanmu padanya”. Akhirnya perempuan itu memperkenalkan dirinya,
panggil aja Jahidah. “Woow Subahanallah
nama yang indah tiba-tiba Reni bersuara, ia pun menjelaskan arti dari
kata Jahidah tersebut. “Jahidah, nama mu itu memiliki arti yang sangat indah
lho..!! aku yakin kedua orang tua mu pasti memiliki maksud tertentu dengan nama
itu”. “Alaahhh,, jangan so’tau loe, gue nggak butuh penjelasan loe, tapi yang
gue butuhkan saat ini adalah dimana Allah yang sering kamu sebut-sebut sebagai
Tuhan itu..??”. Lala mengedipkan mata untuk memberikan kode pada kedua
sahabatnya agar diam jika tidak ditanya .
Lala
sangat faham ketika mengatasi manusia-manusia yang berhati preman, karena ia
sering bertemu dengan orang-orang seperti Jahidah ketika semasa SMA dahulu,
sehingga membuatnya tak gentar ketika berhadapan langsung. (maklum ternyata si
Lala juga mantan preman berhati malaikat J )
“Yaudah..
kalau gitu, sekarang aku pengen nanya sama kamu, apa sebabnya dirimu bertanya keberadaan Allah,,? segala sesuatu pertanyaan
itu muncul pasti memiliki sebab, entah itu dialami sendiri atau melihat realita
yang ada..?” tanya Lala, Jahidah berkata dengan sedikit berbohong “gue tidak
memiliki sebab, gue hanya ingin tau, kenapa kalian begitu percaya dan
mengagungkan nama tersebut, apa sih
keindahannya..? atau jangan-jangan kalian juga tidak mengetahui keberadaannya
sekarang”. Mendengar penjelasan itu Lala terdiam dan berfikir sejenak,
bagaimana cara mengakali orang yang di hadapannya ini, akhirnya ia mendapatkan
ide dan berkata:” lihatlah di sekeliling mu, ada apa aja..? spontan Jahidah
berkata :” di sekeliling ku terdapat pohon, air pancur, dan lain sebagainya”.
Lala kembali memberikan pertanyaan “siapa yang membuat tempat air pancur
itu..? Jahidah menjawab :” manusia”,
lalu lihat diatas mu ada apa..? lanjut Lala, diatas ku ada langit berwarna
biru, jawab Jahidah dengan cepat.
“Naah kalau begitu, sekarang aku tanya sama kamu, siapa yang
menciptakan langit tersebut..? Jahidah sangat terperanjat mendengar pertanyaan
itu, ia sama sekali tak menyangka akan disodorkan pertanyaan yang aneh-aneh
sehingga membuat ia terdiam. Diraut
wajahnya terlihat sedikit kebingungan, lalu Lala menjelaskan “Seluruh makhluk yang berada di jagad raya ini pasti
ada yang menciptakan. Tidak mungkin mereka menciptakan diri mereka sendiri,
karena sesuatu yang awalnya tidak ada, tidak mungkin menciptakan dirinya
sendiri. Demikian pula, mereka tidak mungkin tercipta secara tiba-tiba (ada
dengan sendirinya) karena sesuatu yang baru tercipta, pasti ada penciptanya.
Bagaimana mungkin alam yang sedemikian teratur rapi dengan segala rangkaian
yang sangat sesuai dan keterkaitan yang sangat erat antara sebab dengan akibat
serta antara sebagian wujud dengan yang lainnya, dinyatakan tercipta secara
tiba-tiba.
Sesuatu yang
muncul secara tiba-tiba yang pada asalnya tercipta tanpa suatu keteraturan
tidak mungkin dalam eksistensi dan perkembangannya akan terjadi keteraturan yang
sedemikian rapi. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun
(yakni secara tiba-tiba) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?
Ataukah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka
tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada
perbendaharaan Rabbmu atau mereka pula yang berkuasa?” (At-Thur: 35-37).
Karena
gengsi, Jahidah tak mau kalah, ia langsung berkata :” hey.. loe punya telinga
nggak sih..? yang gue tanya bukan kejadian Alam ini..? tapi tempat Tuhan yang
kalian sebut sebagai Allah ..?”, dengan senyum dan santai Lala pun menjawab
“santai kawan,, penjelasan ku belum selesai. baiklah.. kalau kamu mau tau
keberadaan Allah, maka jawab pertanyaanku dengan jujur. “dirimu menganut agama
apa..?, wadukh..ini nih yang buat gue tambah bingung ketika orang bertanya
masalah agama “gerutu Jahidah dalam hati,, “loe kok diam sih..? tanya Lala.
Oh..ngg..ng..nggak.. siapa yang diam..?” kata Jahidah, kalau kamu nggak diam,
jawab dong pertanyaanku” kata Lala. “Emh.mm..mm..
gue mengikuti agama kedua orang tuaku, yaitu agama Islam”, “di rumah kamu punya
al-Qur’an nggak..?? apa..?, al-Qur’an..?? apaan tuh? Tanya Jahidah penuh
keheranan. Lalu Wati mengambil al-Qur’an didalam tasnya dan berkata “ini lho
yang namanya al-Qur’an”, “hahaha oalaahh...itu toh yang namanya al-Qur’an,,?
kalau itu mah, gua nggak punya, ngapain juga beli buku begituan, mending gue
beli makanan daripada beli buku yang nggak jelas gitu”
“Yaudah
kalau kamu emang nggak mau beli, nih ambil aja punyaku, tak perlu ngeluarin
duit kaan??” kata Wati. Dengan wajah yang heran, Jahidah bertanya “untuk aku..?”,
“iyah..untuk kamu baca-baca dirumah, mungkin kamu lagi kesepian, kalau kamu nggak ngerti
arabnya, baca artinya aja”. Jelas Wati
“”emhh,, iya
deh, sorry.. gue mau cabut dulu,, kata Jahidah, “oke, salam kenal dari kami
bertiga, kalau kamu mau tanya-tanya atau share tentang kebingunganmu, tanya
aja sama kita-kita, kalau kami bisa bantu pasti dibantu, tapi kalaupun nggak, kami
akan bertanya pada yang lebih ahlinya. Oia..ini tempat favorit kita untuk
belajar dan ngumpul-ngumpul lho..! kalau kamu mau ikut gabung, kesini aja besok
sekitar jam-jam sepuluh, kata Reni
Di perjalanan Jahidah berpikir
panjang tentang penjelasan Lala tadi, ia sangat tidak konsen ketika mengendarai
motornya, sesampainya di kos, ia mencoba membuka buku yang diberikan Wati
padanya. Ia sangat bingung dengan tulisan-tulisan Arab, terakhir ia melihat
tulisan ini ketika mau kenaikan kelas tiga SMP. Tapi al-Qur’an tersebut tetap
dibuka-bukanya dan membaca terjemahnya, mulai dari juz 30 sampai pada juz 28 lalu
ia terhenti pada surah ar-Rahman. Dari awal sampai akhir ia membaca
terjemahnya, sampai ia tertidur dan tak terasa meneteskan air mata.
“Laa,, ternyata kamu hebat juga yah
menghadapi orang seperti Jahidah tadi, jujur deh,, kalau kamu nggak ada tadi,
entah..apa yang harus kita jawab, soalnya aku baru kali ini mendengar
pertanyaan orang seperti dia” kata Wati. “Halaahh..gombal, pertanyaan seperti itu
mah sudah tidak asing lagi bagi telingaku,
karena semasa SMA banyak orang-orang yang beragama Nasrani dan bertanya-tanya
tentang keberadaan Tuhan, nah..dengan adanya pertanyaan tersebut membuatku
semangat untuk mencari jawabannya”. Mendengar obrolan kedua sahabatnya, Reni tak mau
kalah, ia pun ikut menggoda sahabatnya, “kalau gitu besok-besok kalau ada debat
antara Kristen-Islam, kamu ajukan diri aja Laa..”katanya, “wadukh,, kalian ini
makin ngaco deh,, udah ah.. ayoo kita pulang sebentar lagi shalat Ashar tuh jawab
Lala
“See you next
tomorrow kawan,, Assalamua’alaikum”
kata Lala mengakhiri perjumpaan mereka hari itu, sementara Reni dan Wati masih
tetap berjalan bersama. Di tengah jalan keduanya hanya terdiam, karena keduanya
mengingat pesan salah satu dosen filsafat mereka mengatakan, kalau jalan nggak
boleh banyak berbicara. Tak terasa Wati telah sampai di depan kostnya, ia pun
pamitan serta mengucapkan salam pada Reni.
Keesokan harinya,
seperti biasa ketika berangkat kuliah Wati dan Reni selalu bersama, semenjak
SMA keduanya sudah bersahabat sementara Lala sahabat mereka ketika awal masuk
kuliah yaitu pada saat pedaftaran. “Tungguin aku ya Ren”, kata Wati. “Emangnya kamu mau ngapain
sih..?? “hehe biasa beli tisu sob, lagi kehabisan nih” sambil senyum-senyum, “yaudah
cepeten sana, jangan lama yaa..!! kalau kamu lama ta’tinggalin”. Tiba-tiba ada
yang merangkul Reni dari belakang dan mengucapkan “assalamu’alaikum, wa’alaikumussalam
“eitss,, tumben dirimu duluan, biasanya kita yang selalu menunggu”, kata Reni,
“hehe..sekali-kali aku yang nunggu kalian dong, pengen melakukan sesuatu yang
berbeda gitu lho..” akhirnya kedua sahabat tersebut tertawa. “Hey,, by the way,
si Wati kemana..?” tanya Lala, “tuh sana lagi beli tisu katanya, tapi kok lama banget
tuh. Yaudah kita hampiri aja yuukk..!!! kebetulan ana mau beli permen nih, kata
Lala.. boleh aja, asalkan ana dibeliin juga ya..!! hehehe” “okke..
gampang.. lets goo” kata Lala
“Sob, sekarang jam
berapa..? entar kita telat lagi, walaupun dosennya belum datang yang penting
kita harus bisa hidup disiplin” ujar Reni mengingatkan keduanya. Sesampainya di kampus, lalu salah seorang teman meraka
berkata “dosennya lagi sakit, jadi
beliau tidak bisa masuk. Tapi beliau nitip handout ini untuk dicopy dan
besok bapak jelaskan. “yaaah,, cape-cape jalan ternyata dosennya nggak masuk
lagi..hufthhh” sahut Wati. “Hushh,, diam,,!!” nggak boleh kaya gitu, semua ini
pasti ada hikmahnya. “Kalau gitu, gimana
kalau kita bertiga ketempat favorit yuukk.. “ ajak Reni
Setibanya ditempat itu, mereka
melihat sosok wanita berhati preman yang kemarin menghampirinya, namun kali ini
dia berbeda dari kemarin, Hari ini ia mecoba tersenyum pada ketiga orang
tersebut. Ketika hendak duduk, Jahidah lalu berkata “Lala, maafin gue atas
sikap kasar yang kemarin yaah”, ia tak menyebut nama Reni dan Wati karena ia
belum kenalan, “ouh..santai kawan.. itu biasa saja, kamu tak perlu khawatir, oh..iyah,
kenalin ini sahabatku, namanya Reni dan
yang ini Wati, jika dirimu butuh motivasi apapun itu, maka kursuslah pada dia
(sambil menunjuk Wati), dan kalau kamu ingin jadi sastrawan maka kursuslah pada
dia, (sambil menunjuk Reni). Weeh???,, motivasi apaan,,?? ana aja belum begitu
bisa kali, anti ada-ada saja, keluar Arab nya si Wati, “ya..ille.. ana juga
kali, nggak begitu pandai dalam sastra, hanya Lala aja tuh yang ngaco”, “udah..anti
berdua nggak usah ngeles gitu dech, ngaku aja napa..? toh..nggak rugi juga..” Melihat
ketiganya bertengkar, Jahidah langsung ikut memberikan saran, “daripada kalian
bertiga bertengkar mending kita minum yuuk, nih..tadi gue beli minum dulu terus
ke sini deh..”, “woow..ini nih yang ana tunggu dari tadi, kebetulan lagi haus”,
kata Reni, “dasar anti nggak pernah berubah, dari SMA kalau lihat minuman,
matanya berbinar-binar kaya melihat permata aja”, kata Wati. “Alaahhh,, kita
tuh butuh minum juga kawan..” Reni mencoba mengelak, “wadukh..udah deh..udah
deh.. jangan kaya ank kecil gini, lihat tuh Jahidah hanya keherenan melihat
tingkah kalian berdua,,” kata Lala mencoba melerai. “what..?? kita..?? loe ajja
kali gue nggak..!! kata Reni dan Wati secara bersamaan. Jahidah hanya tersenyum
melihat ketiganya.
“Oh..iyah, aku penasaran dengan
kata-kata mu kemarin, loe memberikan gue buku ini (sambil memegang al-Qur’an),
dan menyuruhku membacanya. Aku sudah membacanya namun hatiku terus
bertanya-tanya, didalam surah Ar-Rahman tersebut banyak dijelaskan
tentang Allah,, aku bingung apa yang harus aku lakukan..?” kata Jahidah sambil
memainkan kakinya ditanah. “Emangnya apa yang masih kamu bingungkan..??” kata
Reni, “gue bingung Ren.. selama ini aku nggak pernah menyentuh al-Qur’an,
terakhir kali aku membacanya pada saat penaikan kelas tiga SMP”, lha,,?? terus
selama ini kamu ngapain..?? kenapa nggak dilanjutin belajarnya,,?” kata Wati
menimpali. “ aku merasa Allah tidak adil, ia mengambil seluruh orang-orang yang
aku sayangi, lalu Jahidah terdiam sejenak menarik napas dalam-dalam kemudian
mengeluarkannya, ia lalu melanjutkan ceritan nya. “ketika itu, aku baru saja
pulang dari sekolah, samar-samar aku mendengar teriakan orang minta tolong, aku
cuek aja dengan suara itu, tapi aku heran, kenapa semakin dekat aku dengan
rumahku, semakin jelas suara itu, maka ku percepat langkahku. Ketika aku sampai
di rumah, aku sangat kaget melihat ayahku disiksa dan ibuku diperkosa oleh
ketiga laki-laki yang sangar dan memiliki rambut panjang, aku syok melihatnya.
Walaupun aku merasa badanku berat tuk diangkat, tapi kuberanikan diri untuk
megambil kayu api yang tidak jauh dariku, langsung kupukulkan kayu tersebut
pada kaki salah seorang pria yang tinggi besar, sepertinya ia adalah bos
diantara ketiganya, “Argghhh.. teriak laki-laki itu”, ketika laki-laki itu
mengerang kesakitan, kedua laki-laki yang lain menghampirinya. Melihat hal itu,
langsung kupercepat langkah menuju ayahku,
ku pangku ayahku, ia sempat menyuruhku pergi, tapi aku nggak mau, hingga
tak terasa darah semakin deras keluar dari
kepalanya sehingga akhirnya ia
meninggal dipangkuan ku,, aku semakin
marah besar, lalu ku angkat kepala ayahku perlahan-lahan kuletakkan dilantai
dan ku ambil lagi kayu yang lain kemudian kulemparkan kayu itu pada kedua
laki-laki yang sedang mengobati temannya. Mereka berdua kaget dan menoleh
padaku dengan wajah tak kalah seramnya, tapi aku mencoba tegar, ketika keduanya
ingin menghajarku, tiba-tiba polisi datang, tapi mereka tidak berhasil
menangkap keduanya. “Too..oo..long..too..oo..long.. samar-samar ku mendengar
suara ibuku yang merintih kesakitan”, “astaga..!!” lalu ku dekati ibuku dan
memeluknya, serta berkata “ibu, maafin aku, aku telat datang ayoo kita kerumah
sakit..!!”, dengan terbata-bata ibuku menjawab :”tii..ii..tidak mengapa nak,
yang penting kau selamat, tidak perlu ibu dibawa kerumah sakit, karena ibu
merasa masa hidup ibu sudah tak bertahan lama lagi”, tak terasa air mataku jatuh membasahi kedua
pipiku, belum lama ibuku berkata, tiba-tiba nadinya tak berdenyut lagi, Oh.. my
God,,!!! dimanakah engkau, kenapa engkau tak menyelamatakan kedua orang tuaku...?? tuhan tidak adil teriak ku..
Itulah
kisah pahitku sehingga sampai saat ini aku merasa Allah tidak adil dan ku nggak
mau beribadah padanya, tapi setelah ku baca surah ar-Rahman itu, membuat
hatiku bergetar, dan sadar serta sangat
menyesal atas perbuatanku selama ini. Sekarang
aku nggak tahu lagi mau berbuat apa,,? aku merasa aku sangat jauh dari Tuhan,
aku sudah terlambat,, sangaat terlambat, usiaku sudah tua. Bagaimana mungkin
aku bisa kembali padanya, aku sudah banyak berbuat dosa dan mendzalimi orang
lain. Jelas Jahidah panjang lebar, sesekali ia mengusap air mata yang terus
mengalir.
Ketiga
orang tadi sangat terharu mendengar cerita Jahidah, lalu perlahan Lala
merangkul Jahidah dan berkata “saudariku yang aku cintai karena Allah,
ketahuilah didalam bertaubat tidak ada kata terlambat, kecuali nafas telah
sampai di krongkongan. Kamu harus bersyukur pada Allah, yang telah menyadarkan
dirimu dari kelalaian serta perbuatan-perbuatan tercela yang telah kau lakukan,
bertaubatlah dengan taubat yang sebenar-benarnya kepada Allah swt. Allah
memiliki ampunan yang sangat luas, kembalilah kepadanya dan berjanji nggak akan
mengulanginya lagi. Didalam hadits dijelaskan bahwa suatu ketika ada seorang
pembunuh, ia sudah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa. Ketika itu ia ingin
bertaubat, akhirnya ia berjalan mencari seorang Tabib. Ketika ia ketemu dengan
seorang Tabib tersebut, ia bertanya :”Bib, aku ini sudah membunuh sembilan
puluh sembilan nyawa, apakah masih ada ampunan bagiku..? tanya orang tersebut.
Lalu sang Tabib menjawab:”tidaak..!! kau sudah banyak dosa, jadi tidak ada lagi
ampunan untukmu..!! Mendengar jawaban tabib ini, maka si pembunuh merasa putus
asa dan jengkel, sehingga ia menggenapkan seratus nyawa. Setelah membunuh, ia
berjalan menuju seorang Kyai, ketika sampai ditempat Kyai, ia bertanya:”pak Kyai,,
aku telah membunuh seratus nyawa, apakah
masih ada ampunan untukku..?? maka Kyai itu menjawab “wahai pemuda... Allah
maha pengampun, dan pintu ampunan masih terbuka untukmu, maka segeralah engkau
bertaubat padanya, dan hijrahlah ke kota seberang dan iringi perbuatan
jelekmu dengan perbuatan baik. Setelah
itu, pemuda tadi menuju kota seberang seperti apa yang dikatakan pak Kyai, tapi
sebelum sampai dikota seberang, malakait maut datang menjempuntya. Didalam kisah
tersebut pemuda tadi masuk syurga. Inilah
bukti bahwa Allah maha pengampun dan penyayang.
Jahidah..
kematian kedua orang tua mu itu, semuanya telah tertulis di Lauh Mahfudz, semuanya
itu pasti ada hikmah dibalik kejadian pahit yang engkau alami. Allah sangat
dekat pada kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita, mungkin engkau mengatakan
Allah tidak adil..?? Allah Maha mendengar dan Maha melihat atas perbuatan
hambanya, ia selalu mengawasi, ia tidak tidur. Iringilah perbuatan jelak mu itu
dengan perbuatan baik pada sesama makhluk Allah. Kita harus berfikir positif
atau ber khusnudzan aja padanya, mungkin saat itu Allah ingin menguji
keimanan mu. Karena banyak orang yang mengaku beriman, tapi ketika Allah
menguji keimanan mereka, lantas mereka berputus asa.
“Thanks
kawan.. bantu aku untuk menuju cahaya Ilahi yang sempat hilang, ku ingin
mencari cahaya itu lagi, ku ingin mendapatkannya”. Kata Jahidah sambil menatap
satu persatu ketiga orang yang baru
dikenalnya itu, lalu keempat orang tersebut berangkulan. Muncul lagi kata-kata
gaulnya “sudah lama gue ingin mencari orang yang
bisa membantu untuk kembali pada cahayanya, tapi gue bingung harus seperti apa,,?
dulu aku pernah kuliah di fakultas
Hukum, Universitas Borneo tapi aku dikeluarkan, karena menghajar mahasiswi lain dan
dijebloskan kepenjara. Sebelum aku keluar, aku selalu mendengar nama kalian
bertiga disebut-sebut para mahasiswa/i fakultas Hukum, mereka selalu bercerita
tentang kepatuhan kalian. aku ngerasa hati kecilku terus berontak atas
tindakanku, aku sama sekali nggak ngerasa takut pada siapa pun, apalagi pada
Tuhan. Mendengar kata Allah aja, aku langsung
jengkel dan benci, sehingga dulu aku pernah menyimpan kotoran-kotoran di
masjid-masjid dan mengempeskan sepeda motor orang-orang yang mau pergi ke mesjid.
“Sudahlah
kawan.. masa lalu jangan diingat-ingat lagi, sekarang yang harus kamu lakukan adalah membuka lembaran baru dan jangan pernah
menoleh ke masa lalu. Karena hanya orang gila aja yang mengingat masa lalu
terus bersedih, setiap orang pasti memiliki masa lalu yang suram dan buruk, bukan
hanya kamu doang. Simpanlah, tutuplah rapat-rapat tentang aib mu yang dahulu, biarlah
kau dan Allah yang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang terpilih aja yang
mengingat masa lalu dan menjadikan pelajaran bagi dirinya”. Jelas Wati
“Waahh..
personel kita jadi bertambah nih, tempat ini merupakan tempat-tempat yang nggak
akan pernah kulupakan, karena begitu banyak kisah-kisah yang menarik dan lucu
yang kudapati di sini, apalgi pertama kali melihat wajahnya Jahidah” kata Reni.
Hahahaha suara tawa mereka berempat. “Tempat ini kunamakan “Cahaya Ku” kata
Jahidah, “why..?” tanya Lala, karena di tempat inilah kutemukan cahayaku.
The end


Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon